Kakus: Fenomena Menyendiri

Serial TV tempo dulu yang menunjukkan tema American style sering menampilkan adegan orang membaca koran di bilik kakus. Dalam hati saya yang saat itu masih anak-anak, muncul pertanyaan: kok bisa orang bule eek sambil membaca koran?

Leo Babauta, seorang insinyur teknologi, pernah menulis di blog-nya bahwa kakus, yang notabene merupakan tempat orang menyelesaikan hajat, ternyata memiliki fungsi sekunder: sebagai bilik ide.

Leo juga bagian dari itu. Ketika proyek ngoding-nya buntu dan dipenuhi banyak bug, hal pertama yang ia lakukan adalah beristirahat di beranda. Kalau hal itu belum menyelesaikan masalah, ia menyendiri di bilik kakus. Meski tidak ada alasan ilmiah yang secara khusus menjelaskan hal ini, menurut Leo, ritual seperti itu sering kali memberikan ide dan jalan keluar untuk masalah bug yang sedang terjadi.

Barangkali bagi orang barat, sebuah kewajaran kala itu jika orang berlama-lama nongkrong di sekat yang sempit itu. Bilik kakus bisa menjadi tempat untuk embaca berita bursa saham atau sekedar melihat kolom-kolom iklan di lembar koran yang disediakan.

Meledaknya telepon pintar tidak mengubah kebiasaan berlama-lama di bilik kakus. Yang berubah hanyalah polanya. Kalau dulu di kakus orang membaca koran, sekarang kebanyakan scrolling media sosial.

Meski saya setuju dengan pendapat Leo bahwa keajaiban bilik kakus bisa memberikan berbagai wangsit dan ide brilian. Tapi kalau dilihat dari kacamata Islam, kita justru tidak dianjurkan berlama-lama di dalam kakus.

Sebenarnya, yang menjadi masalah bukan soal bilik kakusnya, melainkan sensasi ketenangan ketika seseorang berada dalam kesendirian.

Kesendirian tidak selamanya buruk. Kadangkala, kita memang membutuhkan waktu untuk sendirian, memberi jarak sejenak dari berbagai gangguan, dan mereset pikiran yang sedang buntu.