Tidak Harus Ikut Meramaikan Semuanya


Sejak tertarik dengan gagasan digital minimalism dari Cal Newport, saya mulai memikirkan kembali cara menggunakan media sosial. Persoalannya, bukan sekadar berapa lama waktu yang dihabiskan di depan layar, tetapi juga untuk apa perhatian itu digunakan.

Salah satu perubahan yang saya rasakan adalah semakin tidak tertarik untuk ikut menanggapi setiap isu yang sedang viral. Saya tetap membaca berita dari Google News dan mengikuti perkembangan yang muncul di beranda LinkedIn, tetapi tidak merasa perlu selalu berkomentar atau membagikannya.

Ada beberapa pertimbangan di balik sikap tersebut.

Saya tidak selalu punya waktu untuk memeriksa kebenaran informasi yang beredar. Sebuah isu bisa berkembang jauh sebelum fakta-faktanya jelas. Saya tidak ingin ikut menyebarkan informasi yang keliru hanya karena terburu-buru mengambil kesimpulan.

Pertimbangan risiko hukum. Apa yang kita tulis di internet bisa memiliki konsekuensi di luar percakapan digital. Komentar yang dibuat spontan, tanpa memahami persoalan secara utuh, berpotensi menimbulkan masalah. Saya merasa tidak perlu mengambil risiko tersebut untuk hal yang tidak benar-benar perlu saya tanggapi.

Dorongan untuk mencari validasi. Mendapat banyak like, komentar, dan share memang bisa menyenangkan. Saya pun tidak sepenuhnya kebal terhadap perasaan itu. Namun, saya tidak ingin perhatian orang lain menjadi alasan utama untuk menulis atau membagikan sesuatu.

Di sinilah saya merasa gagasan digital minimalism menjadi relevan. Mengurangi penggunaan media sosial bukan cuma soal menghapus aplikasi atau membatasi waktu layar. Ada hal yang lebih mendasar, yaitu menentukan apa yang layak mendapat perhatian kita dan apa yang sebenarnya tidak perlu diikuti.

Saya cuma ingin menggunakan media sosial dengan tujuan yang lebih jelas. Jika ada informasi yang saya butuhkan, saya akan mencarinya. Jika ada tulisan yang ingin saya bagikan, saya ingin melakukannya karena memang ada sesuatu yang perlu disampaikan. Bukan karena topiknya sedang ramai atau karena saya berharap mendapat respons lebih banyak.

Tentu saja, bukan berarti semua isu publik harus diabaikan. Ada persoalan yang penting untuk dibicarakan, dan ada keadaan ketika bersuara merupakan hal yang perlu dilakukan. Saya cuma ingin jadi orang yang lebih selektif, alih-alih merasa harus menanggapi segala sesuatu yang lewat di beranda.

Saya tidak sedang berusaha menjadi orang yang paling bijak dalam menggunakan media sosial. Saya hanya ingin lebih sadar dalam menentukan ke mana perhatian saya pergi.

Saya bisa mengetahui sebuah isu tanpa harus ikut berkomentar. Saya bisa membaca pendapat orang lain tanpa harus menyatakan pendapat yang sama atau berbeda. Saya juga bisa menutup media sosial dan kembali mengerjakan hal-hal yang lebih penting bagi kehidupan saya.

Tidak semua hal membutuhkan perhatian saya. Tidak semua persoalan membutuhkan komentar dari saya. Dan saya rasa, saya bukan orang sepenting itu.